Tuhanku Seorang Lintah Darat? Menggali Makna Kesetiaan di Dalam Matius 25:14-30 (Part 1)

By. Anggie Wibawanto, S.Si(Teol)

            Perumpamaan tentang tentang Talenta adalah salah satu perumpamaan yang seringkali didengar dan dipakai dalam berbagai pengajaran di gereja. Pemaknaannya pun seringkali dapat dengan mudah ditebak: Tuhan telah memberikan kepada kita talenta (kemampuan, bakat dsb) dan tugas kita adalah untuk mengembangkannya. Bagi yang mengembangkan akan diberikan kepercayaan yang lebih besar sedangkan bagi yang menyembunyikan talentanya akan mendapatkan penghukuman. Seringkali dalam pembahasan ayat ini, perhatian dipusatkan kepada sikap sang hamba yang patuh dan tidak patuh serta kensekuensi yang diterimanya. Pertanyaan lain yang muncul seperti: ‘Apakah profesi sebenarnya dari sang Tuan?’, ‘Mengapa sang Tuan dikatakan ‘jahat’ oleh hamba yang terakhir?’ kurang mendapatkan perhatian dan bahkan mungkin dengan sengaja di hindari. Pertanyaan iseng tersebut mungkin saja memiliki implikasi yang besar atas pemaknaan dalam ayat ini. Bagaimana jika seandainya Tuan (Tuhan?) dalam perumpamaan ini adalah sungguh-sungguh seorang lintah darat yang kejam?

            Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, marilah setapak demi setapak kita masuk ke dalam cerita dan berjumpa dengan setiap tokoh yang ada untuk mengetahui maksud di balik simbol-simbol narasi yang ada.

Masing-masing Menurut Kesanggupannya (Mat 25:14-15)

Kisah ini berada dalam urut-urutan kisah yang diberi judul besar oleh LAI[1] sebagai ‘Khotbah Tentang Akhir Zaman (pasal 24-25)’.  Dalam judul besar itu tertulis banyak kisah yang berkaitan dengan akhir zaman dan Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, kisah tentang talenta ini juga menggambarkan relasi antara Tuhan dan manusia dalam situasi Akhir Zaman: tentang manusia seperti apakah yang berkenan dan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Kisah ini diawali dengan penggambaran seorang yang akan bepergian jauh dan mempercayakan hartanya kepada tiga orang hambanya. Teks tidak memberikan penjelasan apapun tentang orang itu namun  kita dapat tahu bahwa ia adalah orang yang merdeka (bukan hamba) dan cukup kaya karena paling tidak ia memiliki harta delapan Talenta[2].  Dalam kepergiannya, sang Tuan mempercayakan hartanya kepada tiga orang budaknya. LAI dan beberapa terjemahan lain menggunakan bahasa lebih halus untuk menerjemah doulos (bahasa Yunani) sebagai hamba meskipun secara harafiah lebih dekat jika disebut sebagai budak.[3] Status budak memberikan implikasi yang cukup besar terhadap keseluruhan cerita. Dengan perubahan tersebut, kita dapat melihat bahwa tindakan yang dilakukan sang Tuan bukanlah tindakan yang sembarangan melainkan pemberian kepercayaan yang besar kepada tiga orang yang sebenarnya tidak patut mendapatkannya. Seorang budak biasanya tidak diberikan kepercayaan untuk memegang harta dari tuannya apalagi dalam jumlah yang besar. Namun di sisi lain, sang budak juga tidak punya hak untuk menolak apapun yang diperintakan oleh sang Tuan. Ia harus menuruti setiap hal yang diperintahkan oleh Tuannya.

[1] LAI: Lembaga Alkitab Indonesia adalah salah satu lembaga yang terjemahan Alkitabnya dipakai oleh sebagian besar gereja di Indonesia.

[2] Penjelasan tentang Talenta akan di bahas lebih lanjut pada bagian ke empat dari tulisan ini.

[3] http://www.workingpreacher.org/preaching.aspx?commentary_id=1018