Refleksi Diri

‘Kuman di sebrang lautan terlihat, Gajah di pelupuk mata tidak terlihat.’

Pasti pernah dan tidak jarang mendengar atau membaca peribahasa seperti ini. Mudah dimengerti maksudnya kan?  Walaupun berbeda definisi, tapi maknanya tetap sama. Definisi hanya permainan kata saja. Sedangkan maknanya kira-kira seperti ini, cacat orang lain, sekecil apapun itu, bisa dilihat. Tetapi cacat diri sendiri yang sangat besar, bahkan tidak bisa dirasakan.

Begitulah manusia karena Tuhan menciptakan MANUSIA lebih tinggi derajatnya dari makhluk ciptaanNya yang lainnya, bahkan diberikan akal pikiran, tetapi tidak sedikit dari manusia itu tidak menyadari bahwa dirinya bodoh. Kenapa bodoh? karena banyak dari mereka yang justru sombong dan angkuh, merasa dirinya paling benar, paling jago, dan paling semuanya. Hingga tidak jarang dari mereka justru saling meremehkan, saling tidak peduli bahkan saling bermusuhan. Yang lebih parah, mereka berusaha untuk menyaingi Tuhan. Padahal, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuhan Sang Pencipta. Manusia hanya diciptakan dari DEBU. Yang oleh karena Kasih dan Kemurahan Tuhan, diberikan nafas kehidupan. Dengan Kebaikan Tuhan, diberikannya akal pikiran, supaya bisa berkuasa atas makhluk-makhluk ciptaanNya yang lainnya. Akan tetapi, manusia justru memanfaatkan semua yang Tuhan sudah berikan itu dengan semena-mena, bahkan semakin rakus. Itulah yang membuat manusia malah menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang bodoh, yang seharusnya kepintaran yang dimilikinya itu untuk menyebarkan dan memperluas Kemuliaan Tuhan, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan bahkan meremehkan sesamanya.

Sudah seharusnya dan sepantasnya kita mengingat bahwa kita bisa hidup dan tercipta itu karena Kemurahan dan Kebaikan Tuhan semata. Untuk itulah, seharusnya kita bisa menyelami dan memahami maksud dan tujuan Tuhan menciptakan kita. Bukan untuk mengandalkan keegoisan diri sendiri.

Akal dan pikiran yang Tuhan berikan untuk manusia, hendaknya kita pergunakan dengan sebaik mungkin sebab sesungguhnya tidak ada ciptaan Tuhan yang bodoh. Semua makhluk ciptaan Tuhan diciptakan dengan keunggulan dan keahliannya masing-masing,  supaya bisa saling melengkapi, saling membantu dan saling percaya satu sama sama lain, bukan untuk menyaingi, memerintah semena-mena atau meremehkan. Bahkan manusia idiot sekalipun, memiliki keunggulannya sendiri, yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia yang diciptakan sempurna.

Jika Tuhan mengembalikan kita ke wujud kita yang semula, maka kita hanyalah DEBU. Lalu, pantaskah kita menjadi SOMBONG? Apakah masih ada rasa malu untuk kita mencoba menyamakan diri kita dengan Tuhan? Masihkah kita mengingat bahwa kita BERDOSA? Semuanya kita kembalikan lagi ke diri kita masing-masing, sebab, tidak pernah ada kata TERLAMBAT untuk memulai segala sesuatu yang baru di dalam Tuhan dan untuk Kemuliaan NamaNya.

Tuhan Beserta Kita. (EK)