Renungan “Ayam Berkokok”

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah:

“Aku tidak kenal orang itu.”

Dan pada saat itu berkokoklah ayam.

(Matius 26:74)

Bagaikan memiliki jam beker dalam tubuhnya, ayam jantan berkokok menyongsong fajar. Peran suara ayam berkokok cukup menolong dalam mengingatkan kita bahwa fajar telah menyingsing, matahari segera terbit. Pada zaman dulu di desa-desa yang dihuni orang-orang Kristen, suara ayam berkokok di pagi hari bukan hanya untuk membangunkan orang-orang tersebut dari tidur. Suara kokok ayam itu juga berfungsi mengingatkan mereka untuk bersaat teduh, sarapan pagi, dan kemudian berangkat ke ladang.

Petrus menyatakan kalau dia bersedia mati bagi Yesus dan berjanji bahwa meskipun iman setiap orang goncang, dia tetap akan bertahan (Mat. 26:33). Namun sesuai dengan perkataan Yesus, Petrus telah tiga kali menyangkal Yesus sebelum ayam berkokok. Ia menyangkal Yesus karena takut. Pertama-tama, Petrus menyatakan dia tidak berhubungan dengan Yesus dan “tidak kenal orang itu”. Kemudian Petrus bahkan bersumpah dan mengutuk (ayat 74). Di saat ayam berkokok, teringatlah Petrus akan perkataan Yesus, dan dia pun pergi keluar serta menangis dengan sedihnya. Pepatah mengatakan, “the darkest hour is just before dawn.” Ayam berkokok sebelum fajar merupakan bagian penting saat kita diingatkan bahwa momen tergelap dalam kehidupan kita bukanlah sebuah akhir, sebab cahaya fajar akan menyingsing. Kegagalan Petrus bukanlah akhir, ada pengharapan di tengah kekelaman. Anugerah Tuhan menopang Petrus yang kemudian dengan tulus dan rendah hati menghadapi kelemahannya.

Teens, apakah kamu cepat dalam membuat janji-janji dan kemudian tidak sanggup menepati janji-janjimu? Berjanji untuk membantu teman mencarikan buku bacaan, berjanji meminjamkan buku pelajaran, tetapi tidak menepatinya? Bersediakah kamu mengubah kebiasaan buruk dalam hal berjanji dan belajar menepati janji-janjimu? Penuhi janji-janjimu!

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org