MENEPATI JANJI

Kata Petrus kepada-Nya:

“Biarpun mereka semua tergoncang imannya,

aku tidak.”

(Mrk. 14:29)

Laut ‘kan kuseberangi, gunung ‘kan kudaki, semua ‘kan kulakukan demi membuktikan cintaku padamu!” Itulah kalimat ampuh yang diucapkan jika seorang lelaki merayu kekasihnya. Untaian kata-kata indah dan janji-janji manis mengalir untuk meyakinkan bahwa cintanya hanya untuk sang kekasih. Apakah kata-kata dan janji-janji manis itu akan diwujudkan? Entahlah, yang penting kekasih hati sudah terpikat dan terpersona.

Di malam terakhir sebelum diserahkan, Yesus berkata, “Kamu semua akan tergoncang imanmu.” Namun, Petrus dengan penuh percaya diri menegaskan, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” Apakah Petrus ingin membuat Yesus terkesan dengan sikapnya? Tanpa berpikir panjang dan tampaknya mengandalkan kekuatan diri sendiri, Petrus tampil dan berjanji bahwa dirinya tidak akan terguncang. Keberanian Petrus ditanggapi Yesus dengan peringatan bahwa sebelum ayam berkokok dua kali, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Alih-alih menunjukkan keberanian, Petrus justru akan “menjilat ludahnya sendiri.”

Youth, mengikut Yesus bukan sekadar janji atau pengakuan. Kecenderungan untuk cepat mengaku dan membuat janji dengan Tuhan hanya akan membuat kita tersandung dan jatuh. Pengakuan seperti itu umumnya bertumpu pada kekuatan atau kemampuan diri sendiri, bukan pada kekuatan Tuhan. Sikap sesumbar dan mengandalkan diri sendiri akan membawa kita pada kehancuran. Ketika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri, itulah awal kejatuhan kita.

  1. Apa yang membuat Petrus begitu bersemangat mengucapkan janjinya?
  2. Adakah janji Anda kepada Tuhan yang tidak Anda tepati? Mengapa?

 

sumber : https://www.ykb-wasiat.org