PANDANGAN YANG TERBATAS

Segala jalan orang adalah bersih

menurut pandangannya sendiri,

tetapi TUHANlah yang menguji hati.

(Amsal 16:2)

 

Suatu kali, Anto sedang mengikuti kegiatan lintas alam di Gunung Puntang bersama teman-teman pramuka dari sekolahnya. Perjalanan sangat melelahkan, sebab Anto dan teman-temannya harus berjalan naik ke atas gunung lewat bukit-bukit yang terjal. Belum separuh perjalanan, Anto sudah mengeluh kelelahan. Namun teman-temannya menyemangati Anto untuk tidak menyerah. Setelah tiga jam berjalan, mereka akhirnya tiba di suatu tanah lapang di atas gunung. Dari situ, mereka bisa melihat pemandangan yang indah di sekitarnya. Anto berkata, “Di lereng gunung, aku hanya bisa melihat dinding yang terjal dan lembah yang dalam, namun dari sini aku bisa melihat pemandangan yang lebih luas dan indah. Sungguh beruntung aku bisa tiba di titik ini.”

 

 

Firman Tuhan dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini menegaskan tentang kemampuan manusia untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan akal budinya. Akan tetapi, penulis mengingatkan bahwa apa yang dipertimbangkan oleh manusia memiliki keterbatasan. Apa yang dipandang baik, belum tentu begitu di mata Tuhan. Oleh karena itu, apa yang kita pertimbangkan haruslah juga dibawa kepada Tuhan untuk turut diuji apakah sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya atau tidak.

 

 

Teens, sebagaimana Anto sangat terbatas dalam memandang alam di sekitarnya jika hanya berada di lereng gunung, begitu juga saat kita sedang memikirkan sesuatu. Pemikiran kita bagaimanapun sangat terbatas. Sementara kalau kita melihat “dari atas,” seperti Anto di atas gunung, yakni dengan mengandalkan pada pertimbangan Tuhan, kita akan dimampukan untuk memandang persoalan secara lebih luas. Alhasil, solusi atas masalah pun bisa lebih variatif. Maukah kamu melibatkan Tuhan dalam berbagai pertimbangan yang muncul dalam hidupmu?

 

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/05/21/