EMPATI

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita,

dan menangislah dengan orang yang menangis!”

(Roma 12:15)

 

 

 

Sudah berminggu-minggu Dina tidak masuk sekolah karena dirawat di rumah sakit. Dina menjalani kemoterapi untuk mengobati penyakit kankernya. Suatu hari, teman-teman sekelasnya datang menjenguknya di rumah sakit. Dina menangis terisak-isak penuh haru karena perhatian dari teman-temannya itu. Mereka semua menangis bersama-sama sambil memberikan semangat kepada Dina. Namun, ada satu teman Dina yang menangis paling keras, namanya Yudit. Dina pun spontan bertanya, “Mengapa kamu terlihat sangat sedih, Yudit?” Yudit pun mengaku, “Aku tahu pasti berat bagimu bergumul dengan sakit kanker. Aku ingat bagaimana almarhumah ibuku setahun yang lalu juga bergumul yang sama dengan sakit itu.”

 

 

Teens, ketika sesama kita mengalami pergumulan yang berat, Tuhan memanggil kita untuk hadir dengan empati dalam hidup mereka. Empati berarti sikap memahami dan menerima pergumulan yang dirasakan dan dipikirkan oleh sesama kita. Firman Tuhan dalam Roma 12:15 bekata, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Yudit bukanlah sikap empati yang benar dan tidak sama dengan yang dimaksud oleh Paulus. Yudit tidak benar-benar hadir dan peduli bagi temannya. Ia memakai pergumulan Dina untuk tenggelam dalam luka batinnya. Ia gagal menjadi sahabat yang peduli, karena ia sendiri masih butuh dikasihani. Sering kali, kita juga gagal berempati seperti Yudit.

 

 

Teens, empati hanya bisa lahir jika kita cepat mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata (Yak. 1:19). “Berkata-kata” yang dimaksudkan bukan hanya soal berbicara, tetapi juga kita tak perlu cepat bereaksi untuk merespons. Kita tidak perlu cepat memberikan nasihat-nasihat atau janji-janji. Hal yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam berempati adalah hadir di samping mereka yang bergumul dan mendengar dengan sabar.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/10/20/