HATI YANG BERBELAS KASIHAN

“… ketika ia melihat orang itu,

tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”

(Lukas 10:33)

 

 

Suatu ketika ada kecelakaan sepeda motor. Seorang ibu dan anaknya yang masih kecil tergeletak di pinggir jalan. Tidak lama setelah kejadian itu, banyak orang berkumpul. Ada yang mengambil foto dan video dengan HP-nya, ada yang geleng-geleng kepala. Ada yang segera memberikan pertolongan kepada si ibu dan anaknya itu. Ternyata tiap orang memiliki gaya yang berbeda-beda dalam menyaksikan kesusahan orang lain, Teens.

 

 

Cerita tentang orang Samaria, yang pada akhirnya memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan ini memberikan pesan yang jelas bahwa hati yang berbelaskasihan menjadi dasar utama bagi kita untuk peduli kepada orang lain. Imam dan orang Lewi yang melewati begitu saja orang yang terluka itu tentu tahu nasihat Kitab Suci. Seorang Imam melayani di Bait Suci. Begitu juga orang Lewi, termasuk dalam suku yang dipercaya untuk menjadi pemimpin umat. Namun mereka tidak memiliki belas kasihan. Seorang Samaria, yang acap kali dipandang sebelah mata oleh orang Yahudi, justru yang memberikan pertolongan. Pengetahuan tentang hal baik yang diketahui oleh orang Lewi tidak serta-merta membuatnya melakukan perbuatan baik pada saat dibutuhkan. Kesalehan dalam memelihara ritual tidak pula serta-merta membuat Imam berbelaskasihan dan memberi pertolongan. Pengetahuan, kerajinan tidak sampai mengubah sikap mereka kepada pihak yang berbeda dengan mereka. Mereka tidak mampu melihat orang asing adalah sesama yang juga dikasihi oleh Allah.

 

 

Teens, di hadapan Allah, pada hakikatnya kita semua sama. Kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah dengan segala keberadaan dan keunikan kita. Marilah kita nyatakan cinta kasih Allah itu kepada siapa pun tanpa memandang bulu.

 

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/teens-for-christ/