MENGASAH ROHANI

 “Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia,

tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air,

supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

(Yohanes 1:31)

 

 

Para orangtua kaya di Tiongkok tepatnya di Guangzhou, provinsi Guangdong, sudah mulai mendaftarkan anak mereka dalam berbagai jenis program pendidikan sejak dini. Salah satunya adalah kursus pelatihan CEO untuk anak usia 3-12 tahun. Kursus itu seharga 7500 USD atau setara 75 juta rupiah per tahun dengan pertemuan dua minggu sekali. Mereka rela berkorban dengan merogoh kocek yang tidak sedikit demi sebuah kecerdasan yang diperlukan. Namun bagaimana dengan meningkatkan kecerdasan spiritual?

 

 

Yohanes adalah utusan Allah yang mendahului Yesus dan bertugas menyiapkan umat dalam menyambut kedatangan-Nya. Untuk melakukan tugas mulia itu, ia mengasah kecerdasan spiritualnya dengan berkorban. Ia berkorban bukan dalam bentuk uang, namun dengan cara tinggal di padang gurun, jauh dari keramaian, dan hidup hanya dengan makanan yang sangat sederhana: belalang dan madu. Padahal Teens, Yohanes itu lahir dari keluarga berada dan terhormat. Ayahnya seorang Imam dan ibunya seorang keturunan Lewi. Pasti Yohanes sejak kecil tak pernah merasakan kekurangan apa pun. Namun begitu ia beranjak dewasa, ia dengan sengaja memisahkan diri dari orangtuanya supaya ia lebih leluasa mengasah rohaninya. Benar kata orang bijak, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Usaha Yohanes dalam mengasah dirinya membuahkan hasil. Ia mampu mengenali Kristus, mata rohani Yohanes dapat mengenali tanda-tanda kehadiran-Nya. Ia kemudian yakin setelah melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus maka tugasnya menyiapkan umat bagi Tuhan telah resmi dimulai.

 

 

Teens, apa usahamu dalam mengasah kerohanianmu? Kamu bisa mulai berlatih dengan tekun berdoa dan rajin saat teduh, kemudian tiap kejadian yang kamu alami, kamu cari makna rohaninya. Itu perlu, lho, supaya kamu dapat melihat kehadiran Tuhan di dalam hidupmu dan kamu dapat jalani tugas-tugasmu dengan baik, seperti Yohanes.

 

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/12/02/