BERSIKAP RENDAH HATI

Kepadaku,
yang paling hina
di antara
segala orang kudus,
telah dianugerahkan
kasih karunia ini .… “
(Efesus 3:8)

 

 

Sikap sombong karena merasa diri paling hebat daripada orang lain bisa ditunjukkan oleh siapa saja. Keberhasilan sering kali menjadi godaan untuk bersikap sombong, “menepuk dada” dan mengagungkan diri. Sikap sombong menjauhkan kita dari orang lain.

 

Teens, kita melihat dan mungkin juga mengidolakan Paulus sebagai seorang rasul Allah yang hebat. Kita kagum dengan kegigihannya dalam melayani Allah. Kita juga kagum dengan kepintarannya dalam menyelesaikan banyak masalah jemaat-jemaat dengan ide-idenya yang cemerlang. Kita melihat begitu banyak jemaat bertumbuh lewat pelayanan Paulus. Bacaan kita kali ini menekankan bahwa Paulus adalah “orang besar” yang rendah hati. Ia tidak melihat bahwa apa yang dilakukannya adalah kesuksesan yang perlu disombongkan. Ia justru melihat kebaikan Allah yang berkenan memakai dirinya. Ia menyebut dirinya sebagai orang yang paling hina. Alih-alih menyombongkan diri, Paulus justru bersikap rendah hati. Kerendahan hati inilah yang membuat Paulus menjadi berkat dalam kehidupannya bersama orang lain. Sikap rendah hati membuat Paulus menghargai orang lain, mengasihi sesamanya dalam kasih Allah yang besar.

 

 

Teens, mungkin banyak hal yang ada dalam diri kita dapat kita sombongkan. Kita bisa saja menyombongkan diri dengan fasilitas orangtua yang memudahkan kita untuk melakukan apa pun, kepintaran kita dalam hal tertentu, penampilan yang menarik, atau banyak hal lainnya. Ingatlah, bahwa segala kelebihan itu datangnya dari Allah. Ia menganugerahkannya di dalam limpahan kasih-Nya. Untuk itu marilah kita bangun sikap rendah hati untuk berbagi dengan orang lain. Rendah hatilah sehingga kita dapat menghargai kehadiran orang lain yang juga berperan dalam keberhasilan kita. Rendah hatilah sehingga kita tidak lupa untuk mengucap syukur atas anugerah yang Allah limpahkan bagi kita.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/01/20/