BURNOUT

“… tetapi hari ketujuh adalah
hari Sabat TUHAN, Allahmu;
maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan,
engkau atau anakmu laki-laki,
atau anakmu perempuan,
atau hambamu laki-laki,
atau hambamu perempuan,
atau hewanmu atau orang asing
yang di tempat kediamanmu.”
(Keluaran 20:10)

 

“Aku sudah belajar mati-matian. Pulang dari sekolah, aku masih harus ikut les matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan les lainnya. Aku belajar hingga larut malam. Aku bangun pagi-pagi buta juga untuk belajar. Akan tetapi kenapa sih aku hanya dapat 70? Aku lelah dan kecewa dengan diriku sendiri. Aku burnout,” kata Ardi.

 

Burnout adalah sebuah istilah dalam psikologi ketika seseorang mengalami kelelahan akut, sehingga ia mengalami penurunan hasil pencapaian diri. Ada beragam penyebab kondisi burnout, misalnya karena tugas-tugas yang terlalu menumpuk. Namun, burnout juga dapat disebabkan karena sifat perfeksionis dalam diri kita. Orang yang perfeksionis rentan dengan burnout, karena ia sangat frustrasi ketika kebutuhannya untuk tampil sempurna tidak tergapai. Orang yang perfeksionis cenderung bersembunyi di balik kalimat “sibuk demi prestasi,” sehingga ia mengabaikan waktu istirahatnya. Dampaknya, ia pun burnout.

 

Di tengah dunia yang sangat perfeksionis dalam mengejar hasil dan mengabaikan istirahat, Allah sengaja menetapkan hari Sabat bagi semua ciptaan-Nya. Allah menetapkan Sabat agar kita tidak menjadi burnout. Enam hari lamanya kita telah bekerja, namun di hari ketujuh kita harus berhenti. Mengapa? Karena Allah sendiri pun adalah Allah yang memberlakukan Sabat bagi diri-Nya sendiri. Enam hari lamanya, Allah menjadikan langit dan bumi, namun Ia berhenti pada hari ketujuh dan menguduskannya.

 

Teens, kita perlu beristirahat agar kita tidak burnout. Di dalam masa istirahat itu, kita pun sudah semestinya berefleksi tentang relasi kita dengan Allah di dalam hidup ini, sebagaimana jiwa dari hukum Sabat. Tidak usah mengejar kesempurnaan nilai demi sebuah pujian dari orang lain. Hiduplah dalam kasih Allah dan keseimbangan agar kita tidak burnout!

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/02/09/