MENGALAH UNTUK MEMENANGKAN

Beginilah firman TUHAN kepadaku:

“Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!”

(Yeremia 27:2)

 

Dalam persahabatan adakalanya kita menemui sahabat yang menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Menghadapi situasi semacam ini, emosi kita terkuras. Dibutuhkan sikap bijak agar persahabatan bertahan. Sikap bijak yang biasanya diambil adalah mengalah. Mengalah bukan berarti kalah atau menyerah. Tujuan mengalah adalah untuk meraih kemenangan bersama. Bagaimana jika kita sudah mengalah namun sahabat kita tidak memahaminya? Inilah tantangan persaha
batan.

 

Dalam hidup bersama masyarakat Yehuda, Yeremia belajar untuk mengalah. Berkali-kali Yeremia menyampaikan suara kebenaran Tuhan kepada bangsa Yehuda. Rupanya mereka tidak mau mendengar tuturan-tuturan Yeremia. Masyarakat lebih senang mendengar khotbah dari nabi-nabi palsu. Apa yang membuat masyarakat senang mendengar khotbah dari nabi-nabi palsu? Karena nabi-nabi palsu itu menyampaikan khotbah dengan gaya dan bahasa yang menawan. Meski isi khotbah mereka tidak seturut kehendak Tuhan, mereka disukai karena gaya khotbah mereka yang elok. Tuhan meminta Yeremia membuat tali pengikat dan gandar, lalu dipasangkan di tengkuknya. Tali pengikat dan gandar adalah cara kreatif melakukan perlawanan pada kebohongan. Dengan mengalah, Yeremia berusaha memenangkan semua. Apakah orang-orang di Yehuda mengerti tindakan Yeremia? Ternyata tidak. Karena itu Yeremia menyerahkan kembali semua pada Tuhan.

 

Teens, adakalanya kamu memang harus mengalah ketika terjadi situasi sulit dalam relasimu dengan sesama. Mengalah adalah sikap bijak. Dengan mengalah, kamu berusaha menekan egomu sendiri. Percayalah Teens, ketika kamu mengalah, kamu tidak kalah. Di situlah kamu menunjukkan kebesaran hatimu sebagai pemenang yang rendah hati.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/05/25/