SINGLE FIGHTER

” Ia memanggil
kedua belas murid itu
dan mengutus mereka
berdua-dua.
Ia memberi mereka kuasa
atas roh-roh jahat …. “
(Markus 6:7)

 

Teens, kamu mungkin pernah mendengar istilah “single fighter,” yaitu orang yang cenderung bekerja sendirian. Kisah berikut ini adalah contohnya. “Aku nggak suka kerja kelompok. Aku lebih suka mengerjakan tugas sendiri. Jika ibu guru memberi tugas kelompok, hasilnya sering tidak sesuai dengan harapanku. Kadang ada yang ngumpulinnya terlambat. Kadang ada yang hanya asal-asalan. Kadang ada yang isinya lumayan bagus sih, namun tetap aja ada kesalahan ketik. Boleh tidak ya, aku minta izin sama ibu guru agar tugas ini kukerjakan sendirian?” gumam Andrea.

 

Single fighter dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satu penyebabnya adalah sifat perfeksionis. Dalam kisah di atas, Andrea ingin tugas selesai secara sempurna, sesuai ukurannya. Ia tidak dapat memercayai orang lain, tidak dapat memaklumi kesalahan orang lain, tidak dapat belajar menikmati indahnya bekerja sama dengan orang lain. Padahal Tuhan Yesus justru mengajarkan betapa indah dan pentingnya bekerja sama. Di dalam Markus 6:6-13, Tuhan Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergi berdua-dua. Para murid diperlengkapi Tuhan Yesus dengan kuasa atas roh-roh jahat. Mereka tidak diperkenankan membawa apa pun, kecuali tongkat, alas kaki, dan sehelai baju. Dengan mengutus para murid berdua-dua, mereka dapat saling menopang. Mereka dapat saling menegur dan mengingatkan. Bahkan, mereka juga tidak sendirian ketika menghadapi penolakan. Perbedaan karakter dan pola pikir di antara mereka pun bukan lagi menjadi masalah ketika mereka sudah menikmati indahnya bekerja sama.

 

Teens, bekerja sama itu menyenangkan walaupun barangkali awalnya terasa sukar. Oleh karena itu, cobalah belajar bekerja sama dengan orang lain. Jika ada kekurangan dalam prosesnya, baiklah kita saling memaklumi dan mengingatkan. Toh masing-masing kita bukanlah orang yang sempurna.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/02/17/