BIJI SESAWI

“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi

yang ditaburkan di tanah.”

(Mrk. 4:31)

 

Dengan ditemani oleh seorang pemuda, seorang pengusaha berjalan mengelilingi sebuah proyek besar yang sedang dibangunnya. Di tengah perjalanan, sang pengusaha menemukan sekeping uang 100 rupiah di atas onggokan tanah. Ia membungkuk, memungut uang logam itu, dan membersihkannya dari debu. Melihat hal itu, si pemuda heran dan bertanya, ”Pak, kok uang 100 rupiah saja disayang, uang itu kan tidak berarti bagi Bapak?” Sang pengusaha itu berkata, “Jika tidak ada uang 100 rupiah ini, maka tidak akan ada uang 100 miliar untuk membangun proyek ini. Anda harus dapat menghargai uang kecil agar dapat menghargai uang yang lebih besar, dan Anda akan sukses.”

 

Segala sesuatu yang besar di dunia ini pasti dimulai dengan suatu awal yang kecil dan bertumbuh. Demikian juga dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah tidak dimulai dengan hal-hal yang spektakuler dan besar, tetapi dimulai dengan hal yang kecil, yang digambarkan seperti biji sesawi. Biji sesawi itu sangat kecil. Ia disebut sebagai “biji yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi.” Biji sesawi tersebut akan tumbuh dan menjadi lebih besar daripada tanaman lain sehingga burung-burung dapat bersarang di cabang-cabangnya (ay. 32).

 

Tuhan Yesus mengharapkan kita bertumbuh di dalam memahami firman Tuhan. Firman Tuhan bagaikan biji sesawi yang sangat kecil dan banyak orang mungkin tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Namun, pada waktunya firman itu akan menjadi pohon kehidupan yang memberi perlindungan kepada orang yang mendengar dan memercayainya.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/06/17/