IA MENJADIKANNYA BAIK

“Ia menjadikan segala-galanya baik,

yang tuli dijadikan-Nya mendengar,

yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

(Mrk. 7:37)

 

Suatu hari seorang musisi sedang berjalan-jalan di sebuah toko gadai. Setelah berkeliling, per­hatiannya tertuju pada sebuah gitar di sudut etalase. Gitar itu tampak dekil dan hanya me­miliki satu senar berkarat. Sebagai musisi, ia mengenali alat musik yang bermutu. Ia tahu bahwa gitar buruk rupa itu sebenarnya sangat berkualitas. Lalu, dibelinya gitar itu dengan harga 30 dolar. Perlu waktu satu bulan untuk membersihkan gitar itu, memperbaiki bagian yang rusak, dan memasang senar baru. Setelah diperbaiki, benar saja, gitar itu mengalunkan suara yang begitu merdu saat musisi itu memainkannya.

 

Ketika Tuhan Yesus tiba di daerah Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis, orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap. Orang tuli itu dipisahkan dari orang banyak, agar proses penyembuhan tidak terganggu. Yesus menaruh tangan-Nya ke telinga orang itu, melu­dah dan meraba lidah orang itu. Tuhan Yesus menatap ke langit untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah. Lalu, Ia mengucapkan satu kata “Efata!” artinya terbukalah. Orang itu pun menjadi sembuh. Orang-orang yang melihat peristiwa itu takjub dan tercengang. Hal itu dieskpresikan dengan kalimat, “Ia menjadikan segala-galanya baik!” Ini merupakan respons iman terhadap karya Kristus yang menyembuhkan. Kristus menjadikan segala sesuatunya menjadi baik.

 

Youth, yakinlah bahwa Tuhan berkarya dalam hidup kita dan mengubah hal buruk yang sedang terjadi menjadi baik. Oleh sebab itu, kita harus percaya bahwa Tuhan bekerja memulihkan segala sesuatu dalam hidup kita.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/09/