TELADAN HIDUP

” Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. ”

(1Tim. 4:16)

 

“Mengapa persembahan Habel diterima, sementara persembahan Kain ditolak Tuhan?” Melihat murid-muridnya kebingungan, seorang guru agama memberi jawab, “Karena asap persembahan Habel lurus, sedangkan asap persembahan Kain belok-belok!”

 

Apa yang diajarkan orangtua atau guru kepada anak-anak akan membekas begitu rupa dalam benak mereka. Ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa, bisa jadi ajaran yang diperoleh waktu kanak-kanak masih melekat kuat dan menjadi nilai-nilai yang diyakini sebagai kebenaran. Dalam nasihatnya, Paulus menasihati Timotius muda agar hidup dalam ajaran yang sehat dan menjadi teladan bagi jemaat yang dilayaninya, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1Tim. 4:12). Ajaran yang sehat di sini me­nyangkut pokok iman orang percaya dan bukan takhayul (ay. 6-7). Pokok iman itu berkaitan dengan refleksi atas Kristologi, yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus. Selanjutnya, kita yang telah diselamatkan menyatakan syukur dengan menjalani hidup sesuai dengan yang telah Kristus teladankan.

 

Sesungguhnya, tugas berat terletak di pundak orangtua, guru-guru, pendeta, dan para pengajar nilai-nilai iman dan spiri­tual. Sebab, kepada mereka dituntut untuk mengajar dengan benar dan juga melakukannya melalui keteladanan hidup yang nyata.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/03/