KEINGINAN ATAU KEBUTUHAN?

“Jangan merampas dan jangan memeras

dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

(Lukas 3:14)

 

Teens, tentu kamu bingung mengapa para peja­bat negara yang sudah kaya dan punya gaji yang sangat besar masih saja mencari uang tambahan dengan cara yang tidak benar? Jika mau dihitung, jumlah penghasilan mereka tentu sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, tapi mengapa mereka mengorupsi uang negara yang seharusnya dipakai untuk kepentingan rakyat sampai bermiliar-miliar rupiah, bahkan bertriliun-triliun rupiah? Mereka melakukan hal itu karena mereka tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Mereka tidak bisa menentukan prioritas kebutuhan mereka.

 

Ketika Yohanes Pembaptis memberitakan pertobatan, para pemungut cukai dan prajurit-prajurit mendatangi dia dan bertanya, apa yang harus mereka lakukan. Yohanes menjawab para pemukut cukai itu, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan…” dan kepada para prajurit, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Yohanes mengajar mereka untuk mencukupkan diri mereka dan memenuhi kebutuhan mereka. Jika mereka mengejar keinginan, tentu penghasilan mereka tidak akan pernah cukup.

 

Teens, jika kita tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, tentu kita tidak bisa mencukupkan diri. Misalnya, kebutuhan akan makanan dapat kita cukupi dengan makan sederhana tapi sehat. Namun jika mengikuti keinginan untuk posting makanan mahal di media sosial, maka apa yang ada pada kita tidak akan pernah cukup. Karena itu, belajarlah untuk menentukan prioritas, belajarlah mem­bedakan kebutuhan dan keinginan. Mahatma Gandhi pernah berkata, “Seluruh sumber daya di dunia ini dapat memenuhi kebutuhan manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan dan keserakahan manusia.” Karena itu, cukupkanlah dirimu dengan yang ada padamu.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/05/