BELAJAR DARI SEORANG PETANI

” … ia sabar

sampai telah turun hujan musim gugur

dan hujan musim semi. ”

(Yak. 5:7)

 

Hidup di zaman yang serba cepat ini rupanya mendorong manusia untuk sigap menanggapi segala sesuatu, termasuk permasalahan hidup. Namun sayangnya, makin hari kita mendapati bahwa banyak orang tidak lagi memiliki kesabaran, khususnya ketika berhadapan dengan situasi-situasi sulit.

 

Surat Yakobus mengenalkan kehidupan seorang petani kepada kita, yang selalu bersabar menanti hasil yang terbaik. Petani pada masa itu mengenal dua macam hujan. Pertama, hujan musim gugur; yang akan merontokkan segala hal seperti daun, bunga dan ranting-ranting, bahkan pohon-pohon yang tidak memiliki akar yang kuat pun pasti bertumbangan. Jelas ini bukan sesuatu yang diharapkan, sebab pohon-pohon tampak gundul, tanpa daun, tanpa bunga dan tanpa buah. Masa ini adalah masa tersulit, namun mereka terus bersabar dan bertekun menunggu berlalunya hujan musim gugur. Kedua, hujan musim semi; yaitu ketika dedaunan dan bunga-bunga kembali bersemi. Pada masa ini pohon-pohon mulai menghasilkan daun dan buah kembali, sehingga pemandangan di sekitar tampak hijau dan segar. Inilah masa pengharapan, karena masa panen akan segera tiba.

 

Youth, hidup kita tak selalu berada di zona nyaman. Kadang kala kita juga harus melewati masa krisis. Mari belajar dari para petani yang tetap bersabar dan mengupayakan hal-hal baik, sambil menantikan pertolongan Allah. Bersabar dan bertekun adalah wujud iman yang tertuju kepada Allah. Teruslah berjuang sampai ‘masa panen’ itu tiba, sebab di dalam Allah pengharapan kita tak pernah menjadi sia-sia.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/07/10/