MEMBERI DARI KEKURANGAN

” … meskipun mereka sangat miskin,

namun mereka kaya dalam kemurahan. ”

(2 Korintus 8:2)

 

Bai Fang Li adalah seorang kakek penarik becak yang berasal dari Tianjin, Tiongkok. Namanya menjadi dikenal dan diliput media massa karena sebagai penarik becak tua, ia mendonasikan dana sebanyak 350 ribu yuan atau sekitar 472,5 juta rupiah sepanjang tahun 1987 hingga 2005, agar anak-anak yang tidak mampu dapat bersekolah. Karena mendonasikan seluruh penghasilannya, ia harus memakai pakaian bekas, makan seadanya, dan bekerja lebih keras agar dapat memenuhi target membayar uang sekolah pada waktunya. Dengan pekerjaan yang sederhana, ia tetap mendonasikan penghasilannya untuk pendidikan anak-anak sampai akhir hayatnya. Kata-katanya yang inspiratif adalah “Tidak apa-apa saya hidup menderita, yang penting anak-anak miskin itu bisa makan dengan layak dan dapat bersekolah. Saya bahagia melakukan semua ini.”

 

Jemaat di Makedonia pada zaman Paulus juga memberikan teladan yang sama seperti Kakek Bai Fang Li. Saat itu jemaat Makedonia begitu kesusahan, mereka mengalami pencobaan yang berat dan hidup dalam kemiskinan. Bisa dibilang mereka adalah jemaat yang miskin dan berkekurangan. Namun walaupun mereka miskin, mereka kaya dengan kemurahan hati. Mereka mau memberi persembahan yang digunakan untuk membantu jemaat di Yerusalem yang menderita, bahkan mereka masih bisa merasakan sukacita yang meluap.

 

Teens, dari kedua kisah di atas, kita diingatkan bahwa permasalahan hidup, co­baan serta kekurangan, seharusnya bukanlah penghalang bagi kita untuk berbagi kasih dengan orang lain. Justru ketika kita mau berbagi dengan sesama, kita akan merasakan sukacita sekalipun keadaan kita sulit. Dengan kita bisa berbagi kasih dengan orang lain, sukacita akan meluap dalam hati kita. Oleh karena itu, marilah berbagi kasih dan sukacita dengan orang lain!

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/teens-for-christ/