JANGAN MEMANDANG MUKA!

” Saudara-saudaraku … 

janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”

(Yakobus 2:1)

 

Suatu kali beberapa orang dari kelompok teater sebuah sekolah tinggi teologi bermain peran sebagai pengemis dalam kebaktian di sebuah gereja tanpa diketahui oleh jemaat gereja tersebut. Mereka masuk ke gereja layaknya orang yang mau mengikuti kebaktian dan mengambil tempat duduk di barisan depan. Beberapa orang yang duduk di barisan depan melihat mereka dengan tatapan me­rendahkan, tidak mau menyapa, bahkan menjauhi mereka. Di tengah khotbahnya tentang kemiskinan, sang pendeta memperkenalkan mereka sebagai mahasiswa sekolah teologi. Setelah kebaktian, beberapa orang yang tadinya menjauhi mereka menyapa dan berkata, “Maafin kami ya, tadi kami nggak tahu kalau kalian itu calon-calon pendeta.” Sikap seperti itu menunjukkan bahwa masih banyak orang Kristen yang memperlakukan orang berdasarkan penampilan luarnya.

 

Bagi penulis Surat Yakobus, salah satu hambatan serius untuk mempraktikkan iman ialah kecenderungan manusia untuk memandang muka dan membedakan orang ber­dasarkan penampilannya. Orang-orang yang penampilannya biasa saja, yang miskin, akan ditolak dan dihina. Orang-orang yang kelihatannya terhormat dan kaya diperlaku­kan istimewa. Yakobus menyebut bahwa sikap memandang muka seperti itu melanggar hukum Tuhan yang utama, yakni kasih.

 

Teens, kasih yang sejati itu tidak memandang muka. Kita diajak untuk memper­lakukan orang lain bukan berdasarkan penampilan luar mereka. Penampilan manusia bisa beraneka ragam. Warna kulit, rupa wajah, pakaian yang dikenakan, kedudukan sosial, isi dompet, bakat, gelar, keadaan fisik bisa berbeda. Namun, orang percaya harus bersikap bijaksana dan tidak membeda-bedakan orang. Manusia cenderung membeda-bedakan orang berdasarkan penampilan, namun kasih yang sejati tidak memandang muka.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/10/