DITEBUS AGAR TETAP MENJADI PEMILIK TANAH PUSAKA

“Jika engkau mau menebusnya, tebuslah;

tetapi jika engkau tidak mau menebusnya,

beritahukanlah kepadaku,  supaya aku tahu, 

sebab tidak ada orang yang dapat menebusnya kecuali engkau,

dan sesudah engkau: aku.” Lalu berkatalah ia: “Aku akan menebusnya.”

(Rut 4:4)

 

Bagi orang Israel, tanah adalah milik Tuhan yang diberikan kepa­da umat menjadi milik pusaka turun-temurun. Karena itu, tanah tidak boleh dijual kepada orang lain. Apabila sebuah keluarga jatuh miskin atau tidak memiliki keturunan untuk meneruskan milik pusaka, maka tanah harus ditebus oleh sanak terdekat su­paya dapat meneruskan kepemilikan keluarga tersebut.

 

Naomi dan Rut adalah janda. Naomi adalah janda Elimelekh. Rut adalah janda dari putra Naomi. Kedua anak Naomi telah meninggal, dan Rut, menantunya tidak memiliki anak untuk meneruskan pusaka keluarga Naomi. Itulah sebabnya Naomi me­nasihati Rut untuk pergi kepada Boas, salah seorang sanaknya dan meminta Boas menebus pusakanya dan menjadikan Rut istrinya untuk meneruskan keturunan Elimelekh. Nasihat Naomi dituruti Rut dengan datang ke tempat pengirikan gan­dum dan tidur di sebelah kaki Boas. Setelah Boas memastikan bahwa sanak yang lebih berhak untuk menebus tidak bersedia menebus, Boas akhirnya bersedia menjadi penebus tanah mi­lik Elimelekh dan menjadikan Rut istrinya untuk menegakkan nama Elimelekh di atas milik pusakanya.

 

Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa kita telah diberi tanah oleh Tuhan menjadi milik pusaka turun-temurun, yaitu tanah di Taman Eden. Namun karena dosa, kita nyaris kehilangan tanah pusaka itu. Tetapi syukur kepada Allah, Yesus Kristus datang menebus kita dari segala dosa, sehingga kita menjadi ahli waris tanah pusaka, yaitu tanah air surgawi.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/