MEMPERSEMBAHKAN SELURUH HIDUP

“… janda ini memberi dari kekurangannya,

bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

(Lukas 21:4)

 

  

Gereja-gereja kerap kali berdebat soal persepuluhan. Ada yang mewajibkan persembahan persepu­luhan karena itulah perintah Allah dalam Alkitab, yakni memberikan kepada Allah sepersepuluh dari seluruh penghasilan. Ada juga yang tidak mewa­jibkan persepuluhan karena menganggap bahwa persembahan kepada Allah seharusnya tidak hanya sepersepuluh dari harta, melainkan seluruh harta yang dimiliki adalah persembahan kepada Allah. Jadi, memberi persembahan yang benar itu bagaimana?

 

Teens, ketika Yesus berada di Bait Allah, Ia melihat orang-orang memasukkan persembahan ke dalam peti persembahan. Namun, Ia tertarik dengan seorang janda miskin yang memasukkan dua peser, yakni pecahan uang paling kecil. Yesus sangat mengapresiasi persembahan janda itu. Meski jumlahnya sangat sedikit, namun lebih berharga daripada persembahan orang-orang kaya (ay. 3). Orang-orang kaya memberi dari kelebihan mereka. Jika mereka memberi, mereka masih punya uang yang lebih banyak. Namun, si janda memberikan seluruh nafkahnya, semua yang ia miliki untuk melanjutkan hidupnya (ay. 4). Ia tidak hanya mempersembahkan hartanya, tetapi juga mempersembahkan seluruh hidupnya. Janda itu tahu bahwa jumlah uang yang dia persembahkan sangat sedikit, tidak seberapa dibandingkan orang-orang kaya. Namun dia memberikan persembahannya, seluruh hidupnya dengan hati yang tulus.

 

Teens, kita tidak perlu berdebat mana persembahan yang lebih baik, sepersepu­luhkah, seperduapuluhkah, atau seperduakah. Tuhan tidak pernah melihat jumlah persembahan yang kita berikan. Persembahan yang baik adalah persembahan yang diberikan dengan hati yang tulus, bukan dengan kesombongan atau dengan terpaksa. Persembahan yang benar bukanlah soal mempersembahkan uang yang banyak, tetapi rela mempersembahkan seluruh hidup kita.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/teens-for-christ/