TAHU DIRI

“… supaya orang-orang yang hidup tahu,

bahwa yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia

dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,

bahkan orang yang paling kecil sekalipun ….”

(Dan. 4:17)

 

 

Semakin tinggi jabatan, semakin banyak kemampuan seseorang, membuat orang tersebut harus makin mawas diri. Kenapa? Karena semakin tinggi seseorang, semakin orang tersebut mudah jatuh; jatuh dalam kesombongan. Seorang yang sombong merasa dirinya lebih hebat dari siapa pun, bahkan lebih hebat dari Allah. Orang yang sombong ber­pusat pada dirinya sendiri. Ia tidak mengakui bahwa Allah berotoritas atas hidupnya. Kesombongan adalah dosa, men­jadi identitas dari orang fasik (Ams. 21:4).

 

Raja Nebukadnezar karena memiliki segalanya telah menjadi sombong. Dia merasa dirinya sendiri sebagai Allah dan ia telah membuat patung untuk disembah rakyatnya (Dan. 3:1-7). Allah pun memberi peringatan keras kepada Nebukadnezar melalui mimpi yang diartikan Daniel. Pohon adalah Nebukadnezar. Ia yang telah menjulang sam­pai ke langit, akan dipangkas — direndahkan, dengan tujuan agar Nebukadnezar mengakui dirinya hanyalah manusia dan mengakui Allah sebagai Yang Mahatinggi, yang berkuasa atas kerajaan manusia (ay. 17). Akhirnya, setelah merasakan murka Allah, Nebukadnezar menengadah ke langit, memuji, membesarkan, dan memuliakan Allah yang hidup (ay. 34). Nebukadnezar akhirnya tahu diri. Ia bertobat.

 

Siapa kita? Ketahuilah, kita hanyalah manusia, ciptaan Allah yang mendapatkan segalanya dari Sang Pencipta. Karena itu, selayaknyalah kita senantiasa memuji dan memu­liakan Allah Pencipta kita.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/