HARUSKAH MENJADI MISKIN DULU?

“Dan sementara ia menderita sengsara …

dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.”

(Lukas 16:23)

 

Teens, apa yang terlintas dalam benakmu saat mem­baca kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin? Kisah itu mudah sekali membawa orang pada penaf­siran bahwa Yesus sedang mengajarkan bahwa orang kaya tidak diselamatkan, sedangkan orang yang miskin seperti Lazarus pasti diselamatkan. Namun, apa sebenarnya yang Yesus mau katakan dalam kisah itu? Apakah setiap orang yang ingin diselamatkan harus menjadi miskin dulu seperti Lazarus? Apakah orang yang kaya sudah pasti binasa?

 

Perhatikanlah apa yang dilakukan orang kaya itu semasa hidupnya. Ia berpakaian mewah setiap hari, ia selalu bersenang-senang dan hidup dalam kemewahan serta terikat pada semuanya itu. Dalam keadaannya yang kaya dan serba menyenangkan, ia sama sekali tidak peduli pada Lazarus yang tiap hari berbaring dekat pintu rumahnya, penuh borok yang dijilati anjing-anjing, dan menunggu apa pun yang jatuh dari meja makan si orang kaya untuk menghilangkan rasa laparnya. Tidak ada yang salah dengan kekayaannya, hanya saja sikap hati, ketidakpedulian pada sesama dan keterikatan pada hartanyalah yang membawanya pada kebinasaan. Kekayaan maupun kemiskinan bukan prasyarat untuk selamat atau binasa. Dengan kisah itu, Yesus mau mengajarkan ke­pada para pengikut-Nya untuk tidak terikat pada harta duniawi dan mau berbagi dengan sesama.

 

Teens, kita tidak harus miskin untuk diselamatkan. Tidak ada yang salah dengan kekayaan dan menjadi orang kaya. Persoalannya, apakah kita begitu terikat pada kekayaan dan harta benda itu? Apakah kekayaan itu hanya kita gunakan demi kesenangan sendiri, ataukah kita memakainya untuk menunjukkan kasih kepada sesama dan Tuhan? Dalam hidup ini, bagaimana kita menggunakan harta benda yang kita miliki? Apakah un­tuk kesenangan kita sendiri, tanpa peduli pada orang lain? Ataukah kita menggunakannya untuk berbagi kasih dengan sesama?

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/17/