MELAYANG LENYAP

“Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata:

“Kembalilah, hai anak-anak manusia! ”

(Mzm. 90:3)

 

 

Ada seorang oma terbaring di kasur rumah sakit. Tubuhnya lemah tak berdaya, dokter pun sudah mengangkat tangan. Keluarga berkumpul dan berdoa untuk merelakannya. Be­berapa minggu kemudian, oma tersebut pulang dari rumah sakit dalam keadaan bugar. Sementara, ada seorang anak muda, baru saja beraktivitas, tiba-tiba terjatuh dan nyawanya tak tertolong. Hidup dan mati ada di tangan Tuhan, bukan?

 

Manusia berasal dari debu (ay. 3) dan hidupnya bagaikan rumput yang mudah hilang (ay. 5). Usia manusia 70 tahun, dan jika kuat maka 80 tahun, di mana kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru (ay. 10), dan manusia pun melayang lenyap. Allahlah pencipta kita, pemilik kehidupan. Dalam hidup yang adalah debu dan mu­dah lenyap ini, menjadi doa Musa untuk terus berpaut ke­pada Allah, tempat berteduh. Musa memohon agar kiranya Allah memperlihatkan kasih setia-Nya, serta meneguhkan Musa dalam pekerjaannya.

 

Kita masih hidup dan bernapas karena Allah memberi­kan napas itu kepada kita. Sampai kapan pemberian napas itu, tak seorang pun tahu dan berkuasa memperpanjang atau memperpendeknya dengan hikmat manusia. Karena itu, selama masih ada napas, kita sudah semestinya hidup dengan terus berpaut kepada Tuhan, setia dan dekat ke­padanya, sampai suatu hari kita pun melayang lenyap dari dunia ini, dan kita berpulang kepada Allah.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/wasiat/