DIPANGGIL UNTUK SETIA

“… namun mataku telah melihat Sang Raja,

yakni TUHAN semesta alam.”

(Yes. 6:5)

 

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, “Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?” Ibu Teresa menjawab, “Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia.”

 

Setiap anak Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk menjadi berhasil. Jika panggilannya adalah keberhasilan, orang dapat jatuh pada kesombongan. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Pelayan Tuhan harus melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Ia harus melayani semampunya, bukan semaunya. Yesaya dipanggil Tuhan untuk melayani di tengah konteks Israel yang sedang kacau, baik secara politik, spiritual maupun sosial. Israel saat itu sedang menjauh dari Tuhan. Allah memanggil Yesaya lewat penglihatan di Bait Suci. Yesaya takut, sebab ia sadar akan segala keberdosaannya. Ia merasa dirinya seorang yang najis bibir (ay. 5). Yesaya juga merasa tidak layak karena punya banyak keterbatasan. Akan tetapi, Allah sendiri yang melayakkan Yesaya dan akan senantiasa menyertai Yesaya.

 

Youth, kita mungkin juga pernah merasa seperti Yesaya. Kita sadar betapa diri kita memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Hal itu mungkin membuat kita merasa tidak layak untuk melayani-Nya. Akan tetapi, Tuhan dapat menguduskan diri kita. Tuhan mau melayakkan kita untuk melayani Dia. Oleh sebab itu, layanilah Tuhan dengan penuh kesetiaan. Ia akan memperlengkapi keterbatasan kita. Oleh karena itu berserulah, “Ini aku, utuslah aku Tuhan.”

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/04/