DOA BUKANLAH PELARIAN

” … mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit

mengenai rahasia itu …. “

(Dan. 2:18)

 

 

Kapan dan untuk apa terakhir Anda serius berdoa? Tak dimungkiri, doa terkadang dipandang sebagai pelarian atau jalan terakhir setelah segala upaya dilakukan tidak membuahkan hasil. Contoh, setelah segala upaya medis tidak berhasil menyembuhkan seorang pasien, dokter yang bertanggung jawab menanganinya memanggil keluarga dan mengatakan, “Kami sudah berupaya dengan segala keahlian dan peralatan di sini. Namun, tampaknya sulit untuk menolong pasien. Kini, berdoalah memohon belas kasihan Tuhan!”

 

Daniel berada dalam barisan kelompok kaum cerdik dan bijaksana di istana raja Nebukadnezar. Namun, kini kepakarannya justru menjadi ancaman sebab raja bertitah untuk melenyapkan seluruh kaum cerdik bijaksana dalam kerajaannya lantaran raja kecewa, tak seorang pun dari para bijak di negeri itu dapat memecahkan teka-teki mimpi sang raja.

 

Mendengar ancaman raja yang disampaikan Ariokh, Daniel menghadap raja. Ia meminta diberi waktu untuk menjawabnya. Maka mulailah Daniel dan teman-temannya terlibat dalam pencarian hakikat mimpi raja dan maknanya itu. Mereka memulainya dengan doa, “mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu ...” (Dan. 2:18). Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya bukan orang biasa. Mereka cerdik pandai dan berhikmat. Namun, mereka tidak pernah mengabaikan doa. Doa bukan pelarian, melainkan hal utama! Bagaimana dengan kita?

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/07/